Minggu, 08 Mei 2011

transudat exudat


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Rongga-rongga serosa dalam badan normal mengandung sejumlah kecil cairan. Cairan itu terdapat ump dalam rongga serosa perikardium rongga pleura, rongga perut dan berfungsi sebagai pelumas agar membran-membran yang dilappisi mesontel dapat bergerak tampa geseran. Jumlah itu mungkin bertambah pada beberapa keadaan dan akan berupa transudat atau exudat.
Transudat terjadi sebagai akibat proses bukan radang oleh gangguan kesetimbangan cairan badan (tekanan osmosis,dsb), sedangkan exudat bertalian dengan salah satu proses peradangan.
Pemeriksaan cairan badan yang tersangka transudat atau exudat bermaksud untuk menentukan jenisnya dan sedapat-dapatnya untuk mendapat keterangan tentang causanya.
Dalam praktek sering dijumpai cairan yang sifat-sifatnya sebagaian sifat transudat dan sebagaian lagi sifat exudat, sehingga usaha membedakan antara transudat dan exudat menjadi sukar.
           











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi
Transudat
Merupakan penimbunan cairan dalam rongga serosa sebagai akibat karena adanya gangguan keseimbangan cairan (tekanan osmose, statis dan hidrostatik.
Exudat
Merupakan penimbunan cairan yang diakibatkan oleh kenaikan permeabilitas pembuluh darah terhadap protein. Cairan patogen yang berasal dari proses radang serosa :
-          Pleura
-          Peritonium
-          Pericardial
-          Sendi

B.     Mekanisme Pembentukan
Rongga-rongga serosa dalam badan normal mengandung sejumlah kecil cairan yang berfungsi sebagai pergerakkan alat-alat didalam rongga tersebut. Cairan itu terdapat umpama dalam rongga perikardium, rongga pleura, rongga perut dan berfungsi sebagai pelumas agar membran-membran yang dilapisi mesotel dapat bergerak tanpa geseran. Jumlah cairan itu dalam keadaan normal hampir tidak dapat diukur karena sangat sedikit. Jumlah itu mungkin bertambah pada beberapa keadaan dan akan berupa transudat atau eksudat. Didalam rongga serosa dalam keadaan normal terdapat sedikit cairan yang berfungsi sebagai pergerakkan alat-alat didalam rongga tersebut. Dalam keadaan normal cairan bergerak antara pembuluh darah dan cairan extraselular disini terdapat keseimbangan antara tekanan koloid osmotik plasma dan tekanan hidrostatik yang mendorong cairan tetap tinggal dalam pembuluh darah. Tetapi pada keadaan patologis tertentu misalnya :
-          Tekanan hidrostatis meningkat
-          Tekanan koloid osmotik
-          Kenaikan filtrat kapiler dan protein spesies
Keadaan-keadaan tersebut menyebabkan naiknya substansi tertentu dan pengumpulan cairan di extrasellular molekul-molekul kecil seperti air, elektrolit dan kristaloid akan berdifusi secara cepat melewati plasma darah sehingga terjadi penumpukan cairan, proses ini disebut dengan Ultrafiltrasi.
Exudat terjadi karena infeksi bakteri yang mengakibat peningkatan permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah. Transudat-exudat dapat terjadi pada:
-          Sindrome nefrotik
-          Sirosis hepatitis
-          Gagal jantung

C.    Fungsi Transudat dan Exudat
Fungsi dari transudat dan eksudat adalah sebagai respon tubuh terhadap adanya gangguan sirkulasi dengan kongesti pasif dan oedema (transudat), serta adanya inflamasi akibat infeksi bakteri (eksudat).
Transudat terjadi sebagai akibat proses bukan radang oleh gangguan kesetimbangan cairan badan (tekanan osmosis koloid, stasis dalam kapiler atau tekanan hidrostatik, kerusakan endotel, dsb), sedangkan eksudat bertalian dengan salah satu proses peradangan.
Bila radang terjadi pada pleura, maka cairan radang juga dapat mengisi jaringan sehingga terjadi gelembung, hal ini misalnya terjadi pada kebakaran. Cairan yang terjadi akibat radang mengandung banyak protein sehingga berat jenisnya lebih tinggi daripada plasma normal. Begitu pula cairan radang ini dapat membeku karena mengandung fibrinogen. Cairan yang terjadi akibat radang ini disebut eksudat. Jadi sifat-sifat eksudat ialah mengandung lebih banyak protein daripada cairan jaringan normal, berat jenisnya lebih tinggi dan dapat membeku. Cairan jaringan yang terjadi karena hal lain daripada radang, misalnya karena gangguan sirkulasi, mengandung sedikit protein, berat jenisnya rendah dan tidak membeku, cairan ini disebut transudat. Transudat misalnya terjadi pada penderita penyakit jantung. Pada penderita payah jantung, tekanan dalam pembuluh dapat meninggi sehingga cairan keluar dari pembuluh dan masuk ke dalam jaringan. Pemeriksaan cairan badan yang tersangka transudat atau eksudat bermaksud untuk menetukan jenisnya dan sedapat-dapatnya untuk mendapat keterangan tentang causanya.
Berbagai jenis eksudat : eksudat ialah cairan dan sel yang keluar dari kapiler dan masuk ke dalam jaringan pada waktu radang. Bila cairan eksudat menyerupai serum darah dan hanya sedikit mengandung fibrin dan sel, maka eksudat bersifat cair sekali dan dinamai eksudat bening/jernih. Eksudat bening sering terjadi pada radang tuberculosis yang mengisi rongga pleura dapat berjumlah satu liter atau lebih. Eksudat fibrinosa mengandung banyak fibrin sehingga melekat pada permukaan pleura, merupakan lapisan kelabu/kuning yang ditemukan pada pneumonia. Mikroskopis eksudat ini mengandung serabut fibrin dan dalam sela – sela diantara serabut ini terdapat sel radang. Eksudat fibrinosa terjadi bila permeabilitas kapiler bertambah banyak, yaitu karena molekul – molekul fibrin besar dapat keluar dari kapiler dan menjadi bagian daripada eksudat. Eksudat purulen ialah eksudat yang terjadi daripada nanah. Nanah ini terjadi pada radang akut yang mengandung banyak sel polinukleus yang kemudian musnah dan mencair karena lisis. Sisa jaringan nekrotik yang mengalami lisis bersama dengan sel polinukleus yang musnah dan limfe radang menjadi cairan yang disebut nanah. Eksudat hemoragik ialah eksudat radang yang berwarna kemerah–merahan karena mengandung banyak eritrosit.

D.    Cara Memperoleh
Transudat dan exudat dengan  punksi. Syarat-syarat punksi:
1.      Sterilitas
2.      Antikoagulan
o   Heparin ( 3U/I)
o   Na2EDTA ( 1mg/ml )

E.     Cara Penampungan
Cairan yang diperoleh ditampung dalam 3 botol penampung:
-          Botol I             : Steril untuk pemeriksaan bakteriologi.
-          Botol II           : Ditambah antikoagulan untuk pemeriksaan rutin.
-          Botol III          : Tanpa antikoagulan untuk pemeriksaan kimia.

F.     Tujuan Punksi
1.      Membantu diagnosa
2.      Untuk meringankan penderita penyakit
Hal-hal yang harus diperhatikan pada waktu punksi:
a.       Pengambilan cairan tidak boleh seluruhnya karena:
o   Untuk menghindar terjadinya shock.
o   Pada cairan asites banyak mengandung protein.
b.      Apabila cairan keruh pengambilan cukup 4-5 cc, sedangkan apabila cairan jernih jumlah pengambilan 200-300 cc.

G.    Hal-hal yang harus diperhatikan
Hal – hal yang harus diperhatikan :
1.      Pengambilan dan pengiriman sampel
o   Pengambilan sampel dilakukan secara pungsi yang berada disetiap rongga tubuh, dibentuk oleh kulit bagian bawah (debris), pengambilan harus dalam keadaan steril baik itu alat ataupun wadah sampel.
o   Pengiriman sampel dalam wadah tertutup rapat, steril, dan diberi etiket yaitu nama, lamanya sakit, waktu pengambilan, jenis peneriksaan yang diminta, Bila yang dikirim berupa preparat etiketnya ditempel dibelakang preparatnya.
2.      Kualitas Reagensia.
o   Reagensia tidak kadaluarsa, disimpan dalam botol coklat, bertutup rapat dan terlindung dari cahaya matahari langsung.
o   Sebelum digunakan sebaiknya disaring terlebih dahulu.
3.      Teknik Pemeriksaan
o   Pemeriksaan sesuai dengan prosedur dan perlu ketelitian
o   Perlu juga diperhatikan alat – alat yang digunakan dalam keadaan bersih dan kering, kondisi alat seperti pipet tidak pecah pada ujungnya begitu juga dengan kamar hitung.
o   Lamanya waktu pewarnaan juga mempengaruhi terhadap sel yang diwarnai, untuk itu pada saat pewarnaan sesuai dengan waktunya.

H.    Pemeriksaan Yang Dilakukan
                                           I.            Tujuan Pemeriksaan
1.      Untuk menentukan jenis cairan yang diperiksa.
2.      Mengusahakan mencari penyebabnya.
                                        II.            Syarat Pemeriksaan
Harus dilakukan dengan cepat karena mudah terjadi disintegrasi, oleh karena itu pemeriksa yang pertama kali dilakukan adalah pemeriksaan citologi.
                                     III.            Macam-macam Pemeriksaan
1.      Macroskopis
2.      Microskopis
3.      Kimia
4.      Bakteriologi
5.      Serologi
1.      Macroskopis
1.1.Jumlah/Volume
Normal         : negatif (-)
Guna            : untuk menentukan luasnya kelainan yang terjadi.
1.2.Warna
Transudat     : Kuning muda
Exudat         : Bermacam-macam tergantung penyebabnya:
§  Hijau                             : bilirubin/icterus
§  Merah                            : darah
§  Putih kekuningan          : pus
§  Putih seperti susu          : chylus
§  Biru kehijauan   : bakteri pyocyanus
1.3.Kekeruhan
Transudat     : jernih dan encer
Exudat         : agak keruh/sangat keruh dan kental
Kekeruhan pada transudat exudat terutama disebabkan oleh:
·         Leukosit            : kekeruhan yang sangat ringan sampai kekeruhan seperti bubur.
·         Eritrosit : kekeruhan yang berwarna kemerah-merahan.
Adanya kekeruhan pada transudat exudat dinyatakan dengan:
·         Serous              
·         Seropurulent
·         Serosanguinis
·         Purulent
·         Putrid
·         Serofibrinus
1.4.Berat Jenis (BJ)
Guna            : untuk menentukan jenis cairan yang diperiksa.
Syarat           : harus dilakukan segera sebelum terjadi Bekuan
Metode        :
·         Apabila cairan sedikit   : refraktometer
·         Apabila cairan banyak  : urinometer
Transudat    : mempunyai Bj 1006-1015 (≤ 1018)
Exudat        : mempunyai Bj 1018-1030 (≥ 1018)
1.5.Bau
Pemeriksaan bau tidak mempunyai makna. Bau busuk biasanya disebabkan oleh:
·         Adanya pembusukan protein
·         Infeksi kuman-kuman anaerob
·         Infeksi oleh kuman Eschericia coli
1.6.Bekuan
Adanya bekuan dinyatakan dengan :
Bekuan biasanya terjadi pada exudat dan tidak terjadi pada transudat karena adanya fibrinogen. Bekuan yang terjadi sangat lambat pada transudat karena kadar fibrinogen yang rendah disebut Fibrinous Swab/Pelicle. 

2.      Microskopis
2.1.Syarat Pemeriksaan
·         Cairan harus jernih atau agak keruh, sedangkan apabila cairan keruh pemeriksaan tidak perlu dilakukan.
·         Pemeriksaan harus dilakukan dengan cepat.

2.2.Macam-macam
a.       Hitung Leukosit
b.      Hitung Jenis Leukosit

a.       Hitung Leukosit
ü  Metode      :
Kamar hitung Improved Neubauer atau  Fuchs Rosenthal.
ü  Tujuan       :
Untuk menghitung jumlah sel lekosit dalam cairan dan mengetahui bahwa sampel cairan tubuh tersebut transudat atau eksudat.
ü  Prinsip                   :
Jumlah sel lekosit dihitung berdasarkan pengenceran dalam larutan Pengencer dan jumlah sel dalam cairan dalam kamar hitung.
ü  Alat                       :
·         Mikroskop
·         Kamar Hitung Improved Neubauer 3 mm x 3 mm x 0,1 mm atau Kamar Hitung Fuchs Rosenthal 4 mm x 4 mm x 0,2 mm.
·         Pipet Lekosit
·         Kaca Penutup
·         Reagensia :  
§  Larutan pengencer NaCl 0,9 %
§  Antikoagulan Natrium Citrat atau Heparin steril.
Bahan Pemeriksaan : Berupa Cairan yang berasal dari rongga perut, pleura, pericardium, sendi, kista, hydrocele, dsb yang didapat dengan mengadakan pungsi.
ü  Prosedur Kerja :
1.      Sampel didapat dengan mengadakan pungsi dan campur dengan antikoagulan.
2.      Kocok dahulu sampel yang akan diperiksa supaya homogen.
3.      Pipet NaCl 0,9 % dengan pipet lekosit sampai tanda 1 tepat.
4.      Pipet sampel sampai tanda 11 tepat.
5.      Kocok agar sampel dan larutan tercampur sempurna minimal 3 X selama +3 menit dengan putaran membentuk angka 8.
6.      Bila segera dihitung buang beberapa tetes larutan dan teteskan pada kamar hitung. Biarkan mengendap 2-3 menit. Dan hitung didalam kamar hitung di bawah mikroskop. Dengan pembesaran sedang (10 X 45), sebanyak 4 kotak besar.
7.      Perhitungan :
1.      Dengan Kamar hitung Improved Neubauer
2.      Jumlah sel lekosit = PDP X TKP X sel lekosit KBH.
Keterangan:
PDP         = Pengenceran dalam pipet
TKP         = Tinggi Kaca Penutup
KBH       = Kotak Besar yang dihitung
3.      Dengan kamar hitung Fuchs Rosenthal
Jumlah sel lekosit dalam 9 kotak = a
Luas permukaan : 3 x 3 mm2 = 9 mm2
Dalam      : 0,2 mm
Isi            : 9 x 0,1 mm3 = 0,9 mm
Dalam 1 mm3 terdapat : 10/9 x a sel
Pengenceran : 10/9 kali
Jadi jumlah sel/1 mm3 = 10/9 x 10/9 x a sel
= 100/81 x a sel = 5/4 x a sel
Catatan :
Kamar hitung dari Fuchs Rosenthal lebih teliti karena volumenya lebih besar. Kalau cairan berupa purulen tidak ada gunanya menghitung jumlah lekosit tindakan ini baiknya hanya dilakukan dengan cairan yang jernih atau yang agak keruh saja. Untuk cairan yang agak keruh, pilih pengenceran yang sesuai. Bahan pengencer sebaiknya larutan NaCl 0,9 % jangan menggunakan larutan turk, karena dapat menyebabkan terbentuknya bekuan dalam cairan. Cairan yang berupa transudat biasanya mengandung kurang dari 500 sel/ul. Semakin tinggi angka itu semakin besar kemungkinan cairan tersebut bersifat eksudat.
b.      Hitung Jenis leukosit :
ü  Metode :
Giemsa atau Wright Stain
ü  Prinsip :
Endapan cairan dibuat hapusan, kemudian diwarnai dengan pewarnaan tertentu (Giemsa/Wright) maka sel lekosit akan mengambil warna zat.Lalu dihitung dibawah mikroskop dengan pembesaran 1000X dalam 100 % sel lekosit.
ü  Tujuan :
Untuk mengetahui jenis sel lekosit dalam cairan/sampel, sehingga dapat menentukan jenis cairan tersebut (transudat/eksudat).
ü  Alat :
§  Objek glass
§  Pipet tetes
§  Pipet ukur
§  Gelas ukur
§  Rak pewarnaan
§  Mikroskop
ü  Reagensia :
§  Giemsa, komposisi :
·         1 gr giemsa
·         100 ml Metanol absolut
·         Wright, komposisi :
o   0,1 gr Wright (digerus)
o   60 ml Methanol absolut
o   Buffer phospat pH 7,2 :
- KH2PO4 6,63 gr
- Na2HPO4 3,2 gr
- Aquades add 1000 ml
·         Persiapan Reagen :
o   Giemsa
o   17 tetes stok larutan giemsa ditambah 5 ml aquades
ü  Prosedur Kerja :
1.      Sediaan apus dibuat dengan cara yang berlain-lainan tergantung sifat cairan itu.
2.      Jika cairan jernih, sehingga diperkirakan tidak mengandung banyak sel, pusinglah 10 Sampai 15 ml sampel 1500 rpm selama 10 menit.
3.      Cairan atas dibuang dan sediment dicampur dengan beberapa tetes serum penderita sendiri lalu dibuat hapusan. Kalau cairan keruh sekali atau purulent, dibuat sediaan apus langsung memakai bahan itu. Jika terdapat bekuan dalam cairan, bekuan itulah yang dipakai untuk membuat sediaan tipis.
4.      Difiksasi dengan metanol selama 2 menit, buang, cuci dengan aquades.
5.      Digenangi dengan zat warna Giemsa atau Wright selama 15 menit, buang sisa zat warna dan cuci dengan aquades, keringkan diudara.
6.      Dihitung jenis sel atas 100-300 sel, di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 X.
7.      Hasil :
Transudat        : Hanya sel mononuklear (limposit)
Eksudat           : Ditemukan sel mononukleaar dan
polimorfonuklear/segmen.
ü  Catatan :
Hitung jenis ini hanya untuk membedakan limposit dan segmen. Hasil hitung jenis dapat memberi keterangan tentang jenis radang, yang menyertai proses radang akut hampir semua sel berupa segment. Semakin tenang proses itu semakin bertambah limpositnya, sedangkan radang menahun menghasilkan hanya limposit saja dalam hitung jenis. Perbandingan banyak sel dalam golongan limposit dan sel polimorponuklear atau segment memberi petunjuk kearah jenis radang yang menyebabkan atau menyertai eksudat.
.
3.      Pemeriksaan Kimia
Macam-macamnya :  
a.       Protein   
b.      Reduksi

a.       PROTEIN
a.       Kualitatif
Metode  : Rivalta
Tujuan    :
Untuk menentukan jenis cairan yang diperiksa.
Prinsip    :
Seromucin yang terdapat dalam exudat dan tidak terdapat dalam  transudat akan bereaksi dengan asam asetat encer membentuk kekeruhan yang nyata.
Cara kerja :
1.      Masukkan 100 ml aquadest kedalam becker glass 100 cc/ 250cc.
2.      Tambahkan 1 tetes asam asetat glasial kemudian campur menggunakan batang pengaduk.
3.      Teteskan 1 tetes cairan yang diperiksa dengan jarak kira-kira 1 cm di atas permukaan cairan.
4.      Amati campuran / tetesan itu bercampur dan bereaksi dengan latar belakang hitam,ada 3 kemungkinan yaitu
a.       Tetesan itu bercampur dan bereaksi tanpa menimbulkan kekeruhan (cairan normal)
b.      Tetesan itu bercampur dan bereaksi dengan menimbulkan kekeruhan ringan atau kabut tipis (hasil + lemah / transudat)
c.       Tetesan bercampur dan bereaksi dengan menimbulkan kekeruhan atau membentuk kabut tebal (hasil + kuat / exudat)
b.      Kuantitatif
Metode     : Esbach
Guna         :
Untuk mengetahui kadar protein dalam cairan
    Transudat : Kadar protein 2,5 g/dl
    Exudat       : Kadar protein 4 g/dl
Cara kerja :
1.      Periksa terlebih dahulu Bj cairan.
2.      Apabila Bj <1010 encerkan 2-5x
Apabila Bj >1010 lakukan pengenceran sebanyak 20x
3.      Kemudian lakukan penetapan cara Esbach seperti pada pemeriksaan protein rutin.
Guna pemeriksaan :
Untuk mendekatkan kadar protein sebanyak 4g/dl,dimana cara ini merupakan cara yang sebaik-baiknya untuk pemeriksaan Esbach.
Dari Bj cairan bersangkutan juga sudah dapat didekati nilai protein dengan rumus :
(Bj – 1007) x 343 = gram protein / 100ml cairan,maka atas perhitungan itu :
Bj 1010 sesuai dengan 1,0 gram protein/100ml
Bj 1015 sesuai dengan 2,5 gram protein/100ml
Bj 1020 sesuai dengan 4,5 gram protein/100ml
Bj 1025 sesuai dengan 6,0 gram protein/100ml
c.       Glukosa
Kadar glukosa di dalam transudat sama seperti plasma,sedangkan  exudat biasanya berisi kurang banyak glukosa teristimewa jika exudat itu banyak mengandung lekosit.
Metode pemeriksaan : Ortho toluidin
d.      Zat lemak
ü  Transudat : tidak mengandung lemak kecuali bercampur dengan chylus.
ü  Exudat       : mengandung lemak karena dinding kapiler dapat ditembus olehnya.
Cara kerja :
1.      Berilah larutan NaOH 0,1 N kepada cairan sehingga cairan menjadi lindi.
2.      Lakukan extrasi dengan ether,jika cairan itu menjadi jernih,putihnya disebabkan oleh chylus.
3.      Jika tidak menjadi jernih,putihnya mungkin disebabkan oleh lecithin dalam keadaan emulsi.
Untuk menyatakan lecithin dilakukan test sebagai berikut :
1.      Encerkan cairan itu 5x dengan etilalkohol 95%
2.      Panasilah berhati-hati dalam bejana air,kalau cairan menjadi jernih putihnya disebabkan oleh lecithin.Untuk lebih lanjut membuktikannya teruskanlah percobaan dengan:
3.      Saringlah cairan yang telah menjadi jernih itu dalam keadaan panas.
4.      Filtratnya ditampung dan diuapkan di atas air panas sampai volume menjadi sebesar semula (sebelum diberi etilalkohol) dan biarkan menjadi dingin lagi.
5.      Kalau menjadi keruh lagi adanya lecithin terbukti kekeruhan itu bertambah kalau diberi sedikit air.

4.      Pemeriksaan Bakteriologi
Pengecatan yang dipakai :
a.Gram
b.Zn
Untuk mencari adanya fungsi :
Letakkanlah satu tetes sedimen atau bahan keatas kaca obyek dan campurkan dengan sama banyak larutan KOH( NaOH) 10%,tutup dengan kaca penutup,biarkan selama 20 menit,kemudian periksa dengan mikroskop.
Pemeriksaan Bakteriologis ( gram stain )
ü  Metode      : Gram
ü  Prinsip       :
Bakteri gram (+) akan mengikat warna ungu dari carbol gentian violet dan akan diperkuat oleh lugol sehingga pada saat pelunturan dengan alkohol 96 % warna ungu tidak akan luntur, sedangkan gram (-) akan Luntur oleh alkohol dan mengambil warna merah dari fuksin
ü  Tujuan :
Untuk mengetahui adanya kuman–kuman dalam sampel sehingga dapat menentukan jenis cairan tersebut apakah transudat atau eksudat
ü  Alat :
1.      Objek Glass
2.      Pipet tetes
3.      Bak dan rak pewarnaan
4.      Mikroskop
ü  Reagensia :
1.      Carbol gentian violet 1 %
2.      Lugol 1 %
3.      Alkohol 96 %
4.      Air Fuchsin 1 %
ü  Prosedur Kerja :
1.      Setetes sampel yang telah disentrifuge dibuat hapusan diatas objekglass, dan dikeringkan.
2.      Diwarnai dengan karbol gentian violet selama 3 menit, dicuci
3.      Ditambah lugol selama 1 menit, dicuci
4.      Ditambah alkohol 96 %selama 30 detik, dicuci
5.      Ditambah air fuchsin selama 2 menit, dicuci dan dikeringkan
6.      Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000
ü  Catatan :
Transudat : Tidak ditemukan bakteri.
Eksudat : Ditemukan bakteri
Selain dengan pewarnaan gram, juga bisa dilakukan dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen untuk menemukan adanya bakteri clostridium.
Kalau akan mencari fungi (jamur) campur setetes sampel dengan KOH/NaOH 10% diatas objek glass, tutup dengan kaca penutup, biarkan selama 20 menit, kemudian periksa dibawah mikroskop.
Kesimpulan :
Dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis antara lain hitung jumlah dan hitung jenis sel lekosit serta adanya bakteri dalam cairan/sampel yang diperiksa, dapat menentukan jenis cairan tersebut apakah transudat atau eksudat, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosa.

5.      Pemeriksaan Serologi
§  Comlement Fixation Test : untuk mendiagnosa lues/sifilis
§  Precipitin Test:untuk membantu diagnosa infeksi Echinicoccus

I.       Perbedaan Transudat dan Eksudat

TRANSUDAT
EKSUDAT
Bukan proses radang
Proses radang
Bakteri (-)
Bakteri (+)
Steril
Tidak steril
Warna kuning muda
Warna bermacam-macam
tergantung penyebabnya
Jernih dan encer
Kental dan keruh
Bj 1006-1015 ( <1018)
Bj 1018-1030(>1018)
Tidak menyusun bekuan
Menyususn bekuan
Fibrinigen (-)
Fibrinogen +
Jumlah leukosit <500 sel/ul
Jumlah leukosit >500sel/ul
Kadar protein <2,5 g/dl
Kadar protein >4 g/dl
Kadar glukosa sama dengan plasma darah
Kadar glukosa lebih kecil dari plasmadarah
Zat lemak (-)
Zat lemak (+)
LDH 60 %
LDH 60%
Fibrinogen 300-400mg/dl
Fibronogen 4-6g/dl





















DAFTAR PUSTAKA

1.       http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/02/transudat-dan-eksudat.html Di unduh pada tanggal 28 april 2011
2.       Gandasoebrata,R.1968.Penuntun Laboratorium Klinik.Jakarta:Dian Rakyat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar